Ilmu Campuran Seputar Blog, Pendidikan & Sastra

Minggu, 22 Juni 2014

Realis ataukah Sang Pemimpi?



Realis ataukah Sang Pemimpi?


“Ada dua jenis manusia didunia ini, orang yang realis dan pemimpi. Mereka yang realis tahu kemana akan pergi, mereka yang pemimpi telah sampai disana”.
( Robert T. Orben)

Hidup ini penuh kejutan, bukan? Apa yang terjadi esok adalah misteri dan kita hanya boleh berusaha dan berharap yang terbaik. Memang, tak ada jaminan untuk terus bahagia, terkadang hidup memberi kita kebahagiaan yang tak bertepi namun hidup juga bisa menghempas pada kepahitan yang tak berkesudahan.
 Ada juga  yang mengatakan hidup ini seperti resleting, terkadang “up” terkadang “down”, sekarang bahagia besok susah, sekarang tertawa besok berduka, begitulah hidup terus berputar. Namun tak penting hidup ini seperti apa, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menjalaninya. Menjalani kehidupan ini penuh dengan kesungguhan, bermanfaat bagi orang lain atau hanya sekedar melewati setiap menitnya penuh dengan kesia-siaan?
Jika mau menelaah lebih jauh lagi akan makna yang tersirat dari pernyataan tokoh Robert T. Orben seperti yang telah disinggung diatas, bahwasannya ada dua karakteristik manusia di dunia ini, yakni seorang yang realis dan pemimpi, barulah kita menyadari bahwa mimpi ternyata mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Sebagaimana yang kita ketahui sejauh ini, tentu akan sangat berbeda antara orang-orang yang punya tujuan dan tidak dalam hidupnya. Mereka yang memiliki tujuan tahu kemana mereka akan pergi, sedangkan yang tak memiliki tujuan tak tahu kemana mereka akan pergi. Begitu juga bagi mereka, bagi orang-orang yang mempunyai mimpi dan tidak. Orang-orang yang punya mimpi besar, mereka akan berfikir besar, optimis menjalani kehidupan, banyak berusaha dan berdoa. Mereka  slalu menyusun strategi baru untuk menggapai mimpi-mimpinya dan mereka memiliki kemauan yang kuat, sedangkan mereka yang tak mempunyai mimpi, akan lebih banyak berkeluh kesah daripada berusaha, mereka slalu berpikir pesimis, hidupnya selalu di rundung rasa takut dan pasrah terhadap keadaan.
Yang perlu kita ketahui…“ semua orang punya peluang yang sama untuk sukses”.
Allah maha adil. Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tak mau mengubah nasibnya sendiri, begitulah firman Allah dalam kitab suci-Nya. Jadi bagaimana mungkin kita mengharapkan kesuksesan jika kita sendiri tak berusaha meraihnya? Tak mau mencoba  sebelum akhirnya pasrah kepada-Nya? Tak mau berusaha sebelum akhirnya mengaku kalah?
Ingat!!! “semua orang punya peluang yang sama untuk sukses”.
Hanya saja sebagian dari mereka tak tahu bagaimana cara meraihnya. Jika  saat ini kita berpikir bisa maka kita bisa, begitu juga sebaliknya. Jika saat ini kita hanya berpikir tentang masa lalu tanpa sadar jika ada masa depan yang masih menjadi sebuah misteri, tak berusaha melakukan yang terbaik untuk menjemputnya, berarti kita tinggal menghitung hari kapan saatnya kehidupan ini akan menggilas kita bagai karang yang terhempas dibuih lautan. Kehidupan akan siap menghempas kita jauh-jauh. Yang perlu kita yakini apapun yang terjadi hari ini adalah ketetapan-Nya. Tidak ada yang hoki didunia ini. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan didunia ini, bahkan daun yang luruh adalah menghamba kepada-Nya, semua telah tertulis dalam lauh mahfudz. Jadi tak perlu terus menyesali harapan yang tak pernah sampai. Apapun yang telah berlalu semoga kita bisa mengambil ibrah (hikmah) atasnya. Jangan pernah lelah mencoba dan berputus asa dari rahmat-Nya. Bergantunglah kepada-Nya karena Ia satu-satunya  tempat bergantung.
            Jika saat ini kita sedang mengalami kesusahan, cobaan hidup atau tengah tertimpa musibah, lantas  jangan terlalu gegabah berputus asa.
Bukankah apa yang terjadi hari ini adalah yang terbaik bagi kita?
Boleh jadi sesuatu yang tidak kita senangi justru perkara yang terbaik bagi kita, begitu juga sebaliknya apa yang kita senangi justru perkara yang berbahaya bagi kita. Apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik dimata-Nya.
Bumi nyata terus berotasi. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Mari kita daur ulang mimpi-mimpi kita, merombak kembali karena barangkali selama ini… hidup singkat ini hanya kita gunakan untuk mengejar dunia,  padahal orang-orang yang cita-citanya hanya tertuju pada  kehidupan dunia niscaya  Allah akan mencerai beraikan urusannya. (dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah). Mari mendeskonstruksi ulang cita-cita dan  menyibukkan diri bersimpuh  kepadanya disaat sepasang mata lain sibuk menenggelamkan diri dalam mimpi yang melenakan. Jangan sampai kehidupan dunia menyilaukan pandangan kita. Ada satu kehidupan lagi yang tak boleh kita lupakan. “hidup sesudah mati” yang sebagian orang hampir melupakannya. Kerlap-kerlip dunia yang begitu memukau, kesenangan yang hanya sesaat ini mari kita gunakan untuk fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar