Ilmu Campuran Seputar Blog, Pendidikan & Sastra

Rabu, 13 Juli 2016

Should I tell u that I am happy or died?

Apa yang akan kau lakukan jika hidupmu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menyakitkan? Dihadapkan pada kenyataan pahit yang bahkan tak pernah kau pikirkan sebelumnya? Haruskah kukatakan bahwa aku cukup bahagia atau bahkan telah mati? 

*****
Hari ini aku dipaksa menghadapi kenyataan pahitnya perpisahan. Aku mengatakan apa yang sebenarnya aku sendiri tak sanggup melakukannya. Kukatakan bahwa aku akan baik-baik saja tanpanya meski kutahu itu absurd. Kurahasiakan perihal kesehatanku yang kian memburuk dengan mengatakan aku bahagia dan baik-baik saja. Tak ada yang tahu perihal ini, juga perihal telah kucabik hatinya dengan mengatakan aku akan bahagia bersama laki-laki lain, tidak dengan dirinya. Kukatakan jika kita tak perlu menikah atau menua bersama. Barangkali aku telah mengatakan seperti apa yang dikatakan Hayati kepada Zainuddin yang sempat kulihat di layar TV barang beberapa hari yang lalu. Aku tahu kata seperti itu melukai perasaan. Tapi aku tak punya pilihan lain. Tak ada yang tahu bahwa sepertinya aku tak punya alasan untuk hidup. Jika kematian boleh kujemput, maka aku lebih memilihnya. Tapi seperti yang kau tahu, aku tak punya nyali untuk melakukannya. Bukan karena takut mati, tapi lebih pada murka Tuhan. Tuhan akan sangat murka dan melaknat jika kematian kujemput sebelum waktu yang ditetapkan.
Jika kau bertanya perihal apa yang kurasa saat ini? Maka tanpa kujelaskan pun kau akan tahu bahwa aku sudah serupa lilin yang meleleh; habis terbakar, karang yang dihempas ombak bertubi-tubi atau serupa manusia yang tumbuh kaku tanpa harapan. Kau tak perlu cemas. Untuk apa jika aku sendiri bahkan sudah tak memiliki harapan untuk hidup? Tetaplah bertahan jika kau cukup kuat.


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar