Azizah's Blog

Ilmu Campuran Seputar Blog, Pendidikan & Sastra

Tampilkan postingan dengan label My poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My poetry. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2016

Tentang Perpisahan

06.38.00

Tentang Perpisahan


Bukan perihal kalah dan menyerah, tetapi lebih pada kesanggupanku untuk bangkit meski kau bahkan sudah tak peduli. Dan kau musti tahu satu-satunya alasan untuk tetap hidup bukan karena cinta yang sudah tak patut dipertahankan seperti dalihmu, melainkan aku ingat bahwa Tuhan tak akan menguji hamba di luar batas kemampuannya. Anggap saja ini sebagai cobaan, bukankah perpisahan kita juga sebuah takdir yang sudah tercatat dalam lauhul mahfuz dengan tintanya yang telah mengering?

Blitar, 15 Agustus 2016


Minggu, 21 Agustus 2016

Dermaga Kenangan

06.17.00

Dermaga Kenangan

Bagaimana kabar debur ombak yang telah lama tak kau sambang itu? Masihkah ia menghantam karang dengan kerasnya? Seperti harapan yang pernah kau patahkan berkeping-keping, terserak, lalu menguap tak tersisa serupa buih lautan yang kita jumpai di tiap jengkal kaki melangkah, dan kau ingat? Kita menamainya “Dermaga Kenangan”. Ah, betapa ingin kusambangi kini. Melepas sepi yang paling sepi, juga rindu yang kian menggantung tak berujung dan tentu, mengenang setiap inci perjalanan hidup yang telah kita tapaki bersama dengan tabah pada segala derita yang menerpa.

Blitar, 20 Agustus 2016

Jumat, 19 Agustus 2016

Selepas Kau Pergi

10.11.00

Selepas Kau Pergi

Tak ada yang kuingat selain ritme hujan yang mericis juga dinginnya malam selepas kau pergi. Pada saat yang seperti itu seringkali aku berpikir tentang segala kemungkinan yang absurd, seperti; kau tak benar-benar pergi dan akan lekas kembali. Tetapi segera kutampik, karena kepergianmu adalah babak baru untuk memulai hidup dan melupakanmu adalah cara terbaik untuk mengawali segalanya. Benarlah, kenyataan untuk lapang terhadap segala apa yang terjadi tidaklah semudah lidah mengucap, tetapi janganlah sekali mengutuk takdir, sebab ketetapan Tuhan benar adanya juga misteri yang sarat hikmah.

Blitar, 13 Agustus 2016

Minggu, 14 Agustus 2016

Perihal Rindu

19.01.00

Perihal Rindu 

Begitulah semuanya berakhir. Masih lekap dalam ingatan perihal kepergianmu yang tiba-tiba di pagi-pagi yang buta. Tentu saja, bukan tanpa suatu alasan melainkan kau tahu bahwa cinta ini tak layak dipertahankan apalagi diperjuangkan, dalihmu. Kiranya meninggalkanku adalah jalan yang kau tempuh dan kau bahagia akan itu, maka aku rela. Sudah kulatih diri untuk tabah dan tegar menghadapi segala nyata yang menerpa, silih berganti, serupa bumi yang tak bisa kuhentikan untuk tak berotasi atau memaksa angin agar berhenti berembus. Maka kukabarkan padamu, juga pada langit yang mulai mengesumba perihal rindu yang tak akan lapuk, atau karam oleh waktu. Cinta ini masih utuh untukmu.

Blitar, 11 Agustus 2016

Senin, 18 Juli 2016

Ensiklopedi Resah

21.07.00

Ensiklopedi Resah

Saat kutulis prosa ini untukmu, nadiku berhenti berirama
Akan kubagi kau satu kisah tentang semesta yang rusak
dan manusia yang serakah
Tiga puluh tahun mendatang
Aku melihat tanah-tanah dijarah
Pohon-pohon ditumbangkan
Kota-kota dihancurkan
Kemudian tinggalah pekik camar
yang tak tahu kemana hendak pulang

Tiga puluh tahun mendatang
Berjuta pasang mata kelaparan
Harapan mengudara di cakrawala
kemudian berubahlah menjadi ensiklopedi resah

Tiga puluh tahun mendatang, hujan menggenangkan kenangan
Kota di mana aku tumbuh dilahirkan berubah mengerikan;
Menghanyutkan berjuta nyawa tak berdosa, menguar anyir darah yang membumbung tinggi di angkasa
Tak ada kenangan yang hendak dikisahkan
Semua orang bagai lupa ingatan
Kenangan yang dipahat
Lindap di antara resah yang mengerat
Merajam jiwa-jiwa yang sekarat

Batu, 22 Januari 2016
Baca juga: Rela Merapuh

Sabtu, 16 Juli 2016

Rela Merapuh

10.52.00

Rela Merapuh

Rela  kumerapuh dalam penantian
yang entah kapan akan terlunaskan
Ketika kau hendak pergi meninggalkan
Betapa hati ini retak
Serupa puing-puing yang terserak

Kau pernah singgah
Menitip kenang dan asa
Juga menorehkan luka

Kemarilah, Tuan
Biar kubisikkan kata cinta
yang tak akan pernah karam ditelan masa

Sungguh
Betapa ingin kujelajah alam ini bersamamu
Menuntaskan rindu yang kian kelabu
Merajut cinta pada malam-malam syahdu

Ini tentangmu
yang kerap kali kau buatku tergugu
Mengadu padu pada sajak yang bisu

Jika kau memilih pergi, Tuan
Maka aku meluruh
Serupa daun kering yang gugur dari ranting
Atau pendar lilin yang mati oleh angin

Rasakan kesetiaanku yang dahsyat
Berapapun lama kau buatku menunggu
Selama itu pula tak pernah aku mengeluh

Kemarilah, Tuan
Genapi mimpiku dengan hadirmu
 

Malang, 28 Mei 2016
Baca juga: Hujan Kenangan






















Jumat, 15 Juli 2016

Hujan Kenangan

23.31.00

Hujan Kenangan

Hujan
Kembali kau genangkan kenangan
yang mengarat pada dinding ingatan
Padahal telah nian lama karam; di sudut hati paling dalam
Melarung bersama sisa luka kepedihan

Pada gemerisiknya aku berbisik
Merayu
Menyematkan bait-bait sendu
Semoga saja masa silam
Tak lagi timbul tenggelam

Apa hujan selalu mengantar kenangan?
Bilakah ia lesap bersama gelisah
Juga resah 

yang kerap menggerus dada?

Batu, 30 Januari 2016

Baca juga: Gempita Tahun Duka Cita

Gempita Tahun Duka Cita

11.46.00
Derai tawa membahana
Di antara gemerlap cahaya

yang menghias semesta

Malam mengantar kelam
Berjuta orang bertandang
Menyambut almanak tahun pergantian

Menepikan kenangan

Memintal harapan
Juga doa yang bertabur air mata
“Semoga kelak asa tercipta
Doa terjamah

dan harapan menjelma nyata”

Malang, 29 Januari 2016
Baca juga: Anak Tak Bertuan

Kamis, 14 Juli 2016

Anak Tak Bertuan

07.25.00
Dulu, dulu sekali
Andai kau kerat nafsu birahi
Tak akan mungkin aku jadi begini
Ke kota tak layak
Di kampung ditolak
Muak

Begitulah nasib anakmu
Sekarang kerat erat nafsumu
Agar tak ada lagi setelahku
Bibit pilu mimpi-mimpimu

Salahku, apa?
Mereka, siapa?
Menyematkan serentet gelar beraneka
Dibubuhi sumpah serapah
“Anak tak bertuan”
“Anak Haram”
Dan senarai gelar yang sengaja kualpakan
demi sejuta harapan; masa depan

Lihatlah
Bumi masih saja sanggup kupijak
Namun, berapa lama lagi harus bersimpuh?
Tergugu
Mengadu padu pada sajak yang bisu

Batu, 31 Januari 2016
Baca juga: Begitu Pongahkah Kau, Tuan (Serdadu)?

Minggu, 10 Juli 2016

Begitu Pongahkah Kau, Tuan (Serdadu)?

18.31.00
Mengapa kau begitu pongah?
Padahal dahulu
Kau hanya setetes mani yang hina
Bersajaklah untuk kami, Tuan
Sebab kota kami baru saja dilanda kemiskinan
Juga kelaparan yang mengerikan

Mari saling berbelas kasih
Kota kami sudah digenangi kepiluan
Kesedihan
Juga keresahan yang mengerat
Merajam jiwa-jiwa yang sekarat

Desing peluru yang bertalu-talu
Meliuk-liuk pilu
Bercampur harum mesiu
Merobek-robek jantung kotaku
Serdadu tak punya malu
Bersenandung riuh
Gemuruh
Meneriakkan kemenangan semu

Tunggu saja tangan Tuhan menyentuhmu
Ia takkan diam tergugu
Janji-Nya sudah terpatri; dalam mushaf suci
Harga mati; tak bisa ditawar lagi
Bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan
dan kekerdilan mendapat balasan yang setimpal

Coba tengok kitab suci, Tuan
Telah lama ia kau abaikan
Kelak kan kau jumpai kalam illahi
Peredam emosi, penyejuk hati
Penggerak nurani menjadi insan pekerti

Batu, 30 Januari 2016


Baca juga: Perempuan Mulia 

Minggu, 03 Juli 2016

Perempuan Mulia

11.27.00

Perempuan Mulia

Saat kutulis sajak ini, jantungku berhenti berirama
Perempuan mulia
bolehkah kusematkan gelar itu sebagai kenang-kenangan?
Agar saat malam sempurna kelam tak ada lagi
secangkir kenangan yang mengerat kemudian mengarat
pada dinding sanubari yang belum usai kuperbaiki
 

Perempuan mulia
Kau tempatku berlabuh, di sana aku bebas melarungkan secarik luka

juga resah yang kerap menggerus dada
Kau tempatku singgah; memintal harapan yang disematkan pada pagi-pagi yang bersahaja
 

“Semoga kelak kau anakku menjadi wanita solihah nan jelita
juga pemuas dahaga saat aku menua.” Itu doa yang kau rapal dengan air mata juga harapan mulia yang membumbung tinggi ke semesta.
Aku mencintaimu, perempuan mulia 


Batu, 23 Januari 2016

Baca juga: Menganyam Sepi

Sabtu, 02 Juli 2016

Menganyam Sepi

10.43.00

Ketika kau pergi meninggalkan
Tinggalah sepi yang terserak
Menyeruak
Menikam dada yang digumul nestapa
Juga lara rindu yang kian mengabu

Saat malam mulai bertandang
Menyenandungkan kelamnya pada jagad semesta
Senyap bayangmu kerap mengetuk ingatan
Menguar memori perih yang enggan menepi

Akulah penganyam sepi yang paling tangguh, kawan
Pemahat kenangan
Juga pemungut puing-puing mimpi yang retak
Terhempas gelombang duka perpisahan

“Tunggu aku hadir dalam mimpimu kala rindu membelenggu
lalu aku akan menjelma sebagai rembulan
yang menghangatkan malammu
atau serupa bintang yang menerangi mimpi-mimpi indahmu” bisikmu

Seribu malam telah usai kuanyam
Tanpa sebilah bayangan, kenangan dan harapan
Kau tak kunjung datang

Batu, 13 Februari 2016
Baca juga: Sajak-Sajak yang Tak Pernah Selesai 

Kamis, 16 Juni 2016

Sajak-Sajak yang Tak Pernah Selesai

23.38.00


Kau boleh menyebut sajakku
Sajak-sajak yang tak pernah selesai
Serupa kenangan yang kau titipkan
Menyisakan luka di antara kerinduan
yang tak pernah mengarat
Meski merajam jiwa yang sekarat

Ini perihal harapan
Kekalahan
Keterasingan
Juga cinta yang kerap kali bersemi
Meski kau pergi meninggalkan

Sekali waktu pernah kau berkata
yang entah di hari apa
Kau akan datang
Menebas kecemasan
Melenyapkan ketakutan
dan menggapai sejuta impian
Namun
Kau tak kunjung datang

Malang, 11 Juni 2016